
Oleh: Guru Bahasa Indonesia
SMPN 1 Banjang
Dalam pembelajaran penulisan puisi banyak dijumpai siswa kesulitan dalam menemukan ide atau gagasan yang harus dituangkan di dalam puisi mereka. Penyebab kesulitan dalam menemukan ide atau gagasan salah satunya disebabkan oleh guru, dalam mengajarkan yaitu dengan menggunakan metode ceramah dalam kelas sehingga siswa akan merasakan jenuh dan bosan. Pembelajaran yang diharapkan tidak tercapai. Oeh sebab itu guru dituntut untuk pandai-pandai dalam mencari metode atau teknik yang bisa membuat siswa mudah dalam memahami materi penulisan puisi dengan menggunakan teknik pengamatan objek secara langsung.
Pembelajaran menulis puisi dilakukan secara bertahap-tahap sampai menciptakan hasil yang memuaskan. Utami Munandar (1993) menyimpulkan ada empat tahap dalam proses pemikiran kreatif untuk menulis puisi. Diantaranya adalah:
- tahap persiapan dan usaha
- tahap inkubasi atau pengendapan
- tahap iluminasi
- tahap verifikasi.
Pada tahap persiapan dan usaha seseorang akan mengumpulkan informasi dan data yang dibutuhkan. Makin banyak pengalaman atau informasi yang dimiliki seseorang mengenai masalah atau tema yang digarapnya, makin memudahkan dan melancarkan pelibatan dirinya dalam proses tersebut.
Tahap inkubiasi atau pengendapan, setelah semua informasi dan pengalaman yang dibutuhkan serta berusaha dengan pelibatan diri sepenuhnya untuk menimbulkan ide-ide sebanyak mungkin, maka biasanya diperlukan waktu untuk mengendapkan semua gagasan tersebut, diinkubasi dalam alam prasadar.
Tahap iluminasi, akan mencoba mengekspresikan masalah tersebut dalam puisi.
Tahap selanjutnya adalah tahap verifikasi yaitu penulis melakukan penilaian secara kritis terhadap karyanya sendiri. Verifikasi juga dapat dilakukan dengan cara membahas atau mendiskusikannya dengan orang lain untuk mendapatkan masukan bagi penyempurnaan karya tersebut maupun karya selanjutnya.
Adapun cara membina siswa agar mereka dapat menulis dengan baik adalah
• Memanfaatkan model atan teknik.
Dalam pemanfaatan model mungkin siswa diperkenalkan atau diperlihatkan puisi yang mudah dipahami dan unsurursur
yang terkandung di dalamnya jelas. Apabila guru tersebut dengan menggunakan teknik guru berusaha mencari teknik yang cocok oleh siswa tersebut.
• Unsur-unsurnya
Dalam pembelajaran menulis puisi, sebelum siswa mulai menulis dijelaskan mengenai unsur-unsur yang terkandung dalam puisi.
• Kebakatannya
Kebakatan siswa perlu diketahui oleh guru, kemudian bakat itu diarahkan dan dikembangkan dengan teknik-teknik tertentu.
Media Pembelajaran
Dalam pembelajaran puisi yang termudah, salah satunya menggunakan media pembelajaran lingkungan yang dapat dilakukan di sekitar sekolah masing-masing
dan tanpa mengeluarkan biaya yang banyak, di samping itu waktu yang dibutuhkan efisien secukupnya.
Lingkungan sebagai media pengajaran, pada dasarnya memvisualkan fakta gagasan, kejadian , peristiwa dalam bentuk tiruan dari keadaan sebenarnya untuk dibahas di kelas dalam membantu proses belajar menngajar.
Pengajaran di lain pihak guru dan siswa dapat mempelajari keadaan sebenarnya di luar kelas dengan menghadapkan para siswa kapada lingkungan yang aktual untuk dipelajari, diamati dalam hubungannya dengan proses belajar mengajar. Cara ini lebih bermakna disebabkan para siswa dihadapkan pada peristiwa dan keadaan yang sebenarnya secara alami, sehingga lebih nyata, lebih aktual dan dapat dipertanggungjawabkan. Mengajak siswa keluar kelas dalam rangka kegiatan belajar mengajar tidak terbatas oleh waktu.
Artinya tidak selalu memakan waktu yang lama, hanya waktu satu atau dua jam
sudah selesai, tergantung yang akan diamati atau dipelajarinya. Banyak keuntungan yang dapat kita peroleh dari kegiatan mengamati lingkungan sekitar diantaranya adalah;
1. Kegiatan belajar lebih menarik dan tidak membosankan siswa duduk di kelas berjam-jam, sehingga motivasi siswa dalam belajar akan lebih tinggi.
2. Hakekat belajar akan lebih bermakana sebab siswa dihadapkan dengan situasi dan keadaan yang sebenarnya atau bersifat alami.
3. Bahan-bahan yang dapat dipelajari lebih kaya sehingga lebih aktual
4. Kegiatan belajar siswa lebih komprehensif dan lebih aktif sebab dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti mengamati berwawancara, membuktikan, mendemonstrasikan menguji fakta , dan lain-lain.
5. Sumber belajar menjadi kaya sebab lingkungan yang data dipelajari 6. Siswa dapat memahami dan menghayati aspek kehidupan yang ada di lingkungannya sehingga dapat membentuk pribadi yang tidak asing dengan kehidupan di sekitarnya serta dapat memupuk cinta lingkungan.
Dalam kesempatan kali ini, lingkungan benar-benar dimanfaatkan, sehingga guru harus benar-benar membagi waktu sehingga efisien dalam pembelajaran.karena dalam pembelajaran dengan keluar kelas banyak kelemahan atau kekurangan yang sering terjadi dalam pelaksanaannya berkisar pada teknis pengaturan waktu dan kegiatan. Di antaranya adalah:
a. Kegiatan siswa kurang dipersiapkan sebelumnya. Dari kesalahan tersebut dapat mengakibatkan siswa dalam belajar di luar kelas bukan belajar sungguh-sungguh namun untuk mainan. Untuk menghindari dari hal itu guru biasanya mempersiapkan pelaksanaannya dan di plotkan waktunya, kemudian diberitahukan kepada siswa sehingga siswa akan melaksanakan sesuai dengan rancangan yang akan dilakukan.
b. Anggapan bahwa belajar di luar kelas menghabiskan waktu yang banyak. Namun anggapan yang seperti itu adalah salah. Untuk menghindari dari hal tersebut guru bisa membagi waktu yang seefisien mungkin. Misalnya cukup pengamatan yang diperlukan saja, setelah itu siswa disuruh untuk kembali masuk kelas dan membahasnya di dalam kelas. Sempitnya pandangan guru bahwa kegiatan belajar hanya terjadi di dalam kelas. Padahal pelajaran dapat di dalam kelas ataupun di luar kelas.
Evaluasi Pembelajaran
Waluyo (1987:27) berpendapat bahwa struktur fisik puisi terdiri atas baris-baris puisi yang bersama-sama mengandung bait-bait puisi. Selanjutnya, bait-bait puisi itu membangun kesatuan makna di dalam keseluruhan puisi sebagai wacana. Struktur fisik ini merupakan medium pengungkap struktur batin puisi. Adapun unsur-unsur yang termasuk dalam struktur fisik puisi menurut Waluyo adalah diksi, pengimajian, kata konkret, majas (meliputi lambang dan kiasan), versifikasi (meliputi rima, ritma, dan metrum) dan tipografi. Selain keenam unsur itu, menurut Jabrahim, dkk masih ada unsur yang lain, yakni sarana retorika. Dengan demikian ada tujuh macam unsur yang termasuk struktur fisik.
Adapun struktur batin puisi, sebagaimana disebut Waluyo terdiri atas tema, nada, perasaan, dan amanat. Dengan demikian, ada tujuh kriteria dalam mengevaluasi kualitas fisik dari sebuah puisi. Struktur batin yang telah disebutkan di atas, juga merupakan unsur yang dapat digunakan sebagai pedoman pengevaluasian. Jadi antara struktur fisik dan struktur batin menjadi kesatuan untuk mengetahui kualitas dari sebuah puisi.
Teknik Pengamatan Objek Secara Langsung
Metode adalah suatu prosedur yang dilakukan dalam merancang, menyelesaikan, dan menghasilkan dari sesuatu yang diinginkan.(Atmazaki (1993:124). Teknik pembelajaran tidak akan berhasil apabila tidak ada metode yang benar-benar cocok untuk pembelajaran tersebut. Teknik pengamatan objek secara langsung adalah metode yang dilakukan dengan mengamati suatu benda, peristiwa atau kejadian secara langsung.
Teknik pengamatan objek secara langsung dekat sekali dengan alam lingkungan sekitar. Pada dasarnya siswa senang dengan kenyataan atau realita yang langsung dilihat oleh siswa. Oleh sebab itu siswa akan lebih peka atau lebih terangsang untuk mengekspresikan sesuatu yang dirasakannya. Proses belajar mengajar tidak hanya dilakukan di dalam kelas namun dapat dilakukan di luar kelas, seperti yang telah disebutkan tadi yaitu mengamati objek pada lingkungan di luar kelas secara langsung.
Teknik pengamatan objek secara langsung juga sangat bermanfaat dalam pembelajaran puisi. Hakikat menulis puisi merupakan hasil rekaman dari peristiwa atau gambaran objek menarik yang dituangkan melalui pikirannya ke dalam bahasa tulis. Teknik pengamatan objek secara langsung di sini dapat menggugah siswa dalam berekspresi yang dituangkan dalam puisi, dengan cara siswa mengamati suatu objek, misalnya saja objek alam yang berupa pohon beringin seperti puisinya Sutan Takdir AliSjahbana yangberjudul ”Pohon Beringin”
Adapun puisinya adalah:
POHON BERINGIN
Tinggi melangit puncakmu bermegah,
Melengkung memayung daunmu bodi
Berebut akar mencecah tanah
Masuk membenam ke dalam bumi
Lemah mendesir daunmu bernyanyi
Gemulai berbuai dibelai angin
Nikmat lindap menyerap di kaki
Mengundang memanggil leka berangin
Dalam puisi karangan Sutan Takdir Alisjahbana, dilukiskan tentang keadaan luar dari pohon beringin. Jadi bagaimana bentuk pohon beringin itu dapat di tulis menjadi puisi, dengan menggunakan kata-kata yang pantas untuk dijadikan puisi.
Setelah melihat contoh di atas siswa dapat mempraktekannya dengan melakukan di luar kelas yaitu mengamati objek secara langsung. Adapun langkah-langkah yang harus ditempuh adalah:
a. Langkah Persiapan
Ada beberapa prosedur yang harus ditempuh pada langkah persiapan ini adalah:
• Guru menentukan tujuan yang diharapkan dicapai oleh para siswa, dan siswa diberitahu tujuan dari pembelajaran tersebut, agar siswa mengerti tujuan yang akan dilakukannya.
• Menentukan objek yang akan diamati. Dalam hal ini guru menentukan objek yang sekiranya cocok untuk pembelajaran menulis puisi. Diuusahakan objek yang diamati adalah objek yang dekat dengan sekolah agar tidak membutuhkan waktu yang lama.
• Menentukan cara belajar siswa dalam mengamati objek. Oleh karena itu siswa dapat bekerja dengan baik dan dapat mengerjakan sesuai dengan yang diharapkannya.
b. Langkah Pelaksanaan
Pada langkah ini dilakukan kegiatan pembelajaran di tempat objek yang telah dipilih. Siswa mengamati objek secara langsung kemudian siswa mencoba mengungkapakan apa yang dilihat, apa yang dirasakan oleh siswa, dan setelah itu perasaan atau objek yang dilihatnya dituangkan dalam bahasa puitis.
c. Tindak lanjut
Setelah melakukan pengamatan objek dan megerjakan apa yang ditugaskan oleh guru yaitu menulis puisi berdasarkan objek secara langsung, maka siswa diharapkan untuk kembali ke kalas. Dalam kelas tersebut guru mencoba melihat hasil dari yang dilakukan siswa dengan melihat hasil puisi yang telah dituliskan oleh siswa.
Agar seluruh siswa mengetahui kesalahan yang telah ditulisnya maka, guru menyuruh salah satu siswa untuk membacakannya hasil puisi tersebut. Setelah itu siswa yang lainnya menilai atau mengoreksi pekerjaan temannya, dengan harapan agara kesalahan tersebut tidak terulang keduakalinya.