Senin, 19 Oktober 2009

Hikayat Banjar

Bagi para guru, khususnya guru yang mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia, Sejarah, dan Kesenian yang ingin mengajarkan dongeng kepada anak didiknya, di sini kami masukkan salah satu khazanah sastra klasik terkenal dari Kalimantan Selatan, yaitu Hikayat Banjar.

Cerita yang panjang ini sudah dibuat menjadi sebuah sinopsis oleh seorang guru SMPN 1 Banjang, yaitu M. Sahriadi. Pembuatan sinopsis ini menurut keterangan pembuatnya, hampir memakan waktu 5 bulan yang pada mulanya ditujukan untuk analisis cerita daerah pada pembelajaran sastra di SMP 1 Banjang. Karena menurut beliau sudah saatnya para siswa di Kalsel-Teng tahu tentang cerita dari daerahnya sendiri.

Di laman ini, kami hanya memasukkan sebagian dari kisah yang luar biasa tersebut. Juga ditambah beberapa cerita lain. Selanjutnya Anda bisa langsung mengunduhnya di weblog guru yang dimaksud. Anda bisa mengkliknya di:
1. Sinopsis Hikayat Banjar Part 1
2. Sinopsis Hikayat Banjar Part 2
3. Cerita tentang "Nisan Berlumur Darah" dari Martapura
4. Cerita Penghulu Rasyid

Juga cerita lain bisa Anda lihat di blog tersebut. Atau klik di sini untuk melihat-lihat


Sinopsis
Hikayat Banjar

Cerita ini berasal dari negeri Keling. Di sana hidup seorang pedagang yang kaya raya bernama saudagar Mangkubumi. Istrinya bernama Siti Rara. Anaknya bernama Empu Jatmika. Setelah Empu Jatmika besar kemudian dia kawin dengan Sari Manguntur. Dari perkawinannya ini Empu Jatmika mendapat dua orang putra, bernama Empu Mandastana dan Lembu Mangkurat. Saudagar Mangkubumi jatuh sakit ketika kedua cucunya masih remaja. Semua anggota keluarga dititahkan untuk berjaga selama 40 hari, siang dan malam. Saudagar Mangkubumi meminta supaya anak dan cucunya datang menghadap ketika beliau hampir meninggal dunia. Kemudian dia berpesan kepada anaknya Empu Jatmika supaya menjaga seluruh keluarga dengan sebaik-baiknya. Selain itu beliau berpesan agar jangan kikir dan bersikap adil terhadap setiap orang. Hendaklah anaknya menerima dan mendengar setiap permohonan orang yang datang menghadap dengan segera. Itulah kata-kata terakhir dari saudagar Mangkubumi.

Sebelumnya juga beliau berpesan supaya anaknya pergi merantau ke luar negeri Keling karena di negeri Keling ini terdapat banyak orang yang suka iri hati dan dengki. Anaknya Empu Jatmika harus mencari negeri yang bertanah panas dan berbau harum. Untuk mengetahui hal itu hendaklah dia menggali tanah yang didatanginya, kira-kira pada tengah malam dan mengambilnya sekepal. Jika telah berhasil menjumpai daerah yang tanahnya memenuhi syarat-syarat itu, hendaklah dia menetap di sana. Karena di tempat itulah dia mendapat rahmat dan kebahagiaan. Tanaman-tanaman akan tumbuh subur. Saudagar-saudagar akan berdagang, dan negara akan terhindar dari gangguan musuh. Jika tanah itu harum tetapi dingin, maka kebahagiaan dan kemakmuran hanyalah sekadar saja. Baik dan buruk ada di dalam keadaan seimbang. Jika tanah itu berbau busuk dan lagi dingin, maka niscaya negara itu senantiasa ditimpa bahaya. Menderita kesukaran yang tidak putus-putusnya.

Setelah berpesan demikian, saudagar Mangkubumi menutup mata untuk selama-lamanya. Semua keluarga berduka cita, dan meratapi dengan tangis kesedihan. Untuk mengikuti kebiasaan pada zaman dahulu kala, upacara pemakaman berlangsung dengan disertai pembagian beribu-ribu lembar kain dan berpuluh-puluh ribu uang yang ditaburkan.
Mengingat akan pesan ayahnya, Empu Jatmika setuju sekali untuk meninggalkan negerinya. Dia memerintahkan hulubalang Arya Megatsari dan Tumenggung Tatah Jiwa untuk datang menghadap. Juga Wiramartas yang merupakan seorang ahli bahasa. Wiramartas fasih dalam berbahasa Arab, Persi, Melayu, Tionghoa, dan lain-lain. Kemudian Wiramartas ditunjuk sebagai kepala dari rencana perjalanan ini.
Tidak lama kemudian, bertolaklah dari negeri Keling, armada yang berlayar dengan dipelopori oleh kapal Si Prabayaksa. Empu Jatmika terdapat dalam kapal pelopor ini. Tidak lama kemudian, armada berlabuh di sebuah pulau. Tetapi ternyata pulau itu tidaklah bertanah panas dan harum. Dengan sedikit kecewa pelayaran diteruskan. Armada kemudian berlabuh di pulau Hujung Tanah. Sementara berlabuh Empu Jatmika tertidur dan bermimpi. Dalam mimpinya itu dia serasa berjumpa dengan almarhum ayahanda, yang berpesan supaya mendarat di pulau Hujung Tanah. Di situlah dia akan menjumpai apa yang dicari.

Pagi-pagi benar pergilah Empu Jatmika dengan empat orang pengiringnya menuju pulau Hujung Tanah. Dia mengambil tanah di sana, dan benarlah di sini hawanya panas laksana api, harum bagai daun pudak.

Dengan batu-batu yang dibawa dari negeri Keling, dimulailah membangun sebuah candi. Kemudian didirikan pula sebuah istana lengkap dengan balairung, pendopo dan perbendaharaan. Dengan suatu upacara di dalam balairung, Empu Jatmika memberikan nama kepada negara baru itu Nagara Dipa. Dia sendiri menjadi raja di negara ini dengan gelar Maharaja di Candi.

Lanjutanya, silakan klik pada nomor di atas

2 komentar:

  1. Ok, semoga bahan ini bisa dipergunakan oleh guru agar cerita daerah sendiri bisa diapresiasi dengan baik. Hampir tidak ada di dalam buku pelajaran, cerita rakyat banjar, melulu kisah dari luar.

    Di buku sejarah, perjuangan rakyat Banjar cuma 2 paragraf. Di buku kesenian dan B. Indonesia tidak ada sama sekali.

    Wassalam
    Pembuat Sinopsis

    BalasHapus
  2. izin copas ka,,,terima kasih. sangat bermanfaat.

    BalasHapus

Untuk kemajuan dan keberhasilan anak didik kita silakan beri komentar yang membangun, Terima kasih